KabarIndonesia - Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan sedang berlangsung di tanah air. Setiap hari partai politik menggelar beberapa acara untuk mengajak konstituen mencoblos tanda partai politik yang diusungnya nanti tanggal 9 April 2009. Berbagai acara diselenggarakan, dari rapat terbuka sampai kunjungan langsung ke rumah-rumah penduduk.
Dari sekian banyaknya cara merebut hati konsituen, saya paling tertarik mencermati kampanye terbuka yang seringkali dihadiri oleh ribuan bahkan puluhan ribu massa.
Selain rawan terhadap bentrokan antar pendukung seperti yang banyak diberitakan di media televisi akhir-akhir ini, kumpulan massa sampai sebegitu besar juga membuat saya bertanya, apakah mereka tidak bekerja sampai rela ikut kampanye berdesak-desakan dan berpanas ria?
Saya rasa banyak sekali politikus yang menjanjikan akan menciptakan lapangan kerja di masa kampanye ini. Sesuatu yang seringkali sulit direalisasikan pada kenyataanya. Namun lebih dari itu, kumpulan massa saat kampanye partai politik juga merupakan cermin bahwa pengangguran di Indonesia memang demikian besarnya.
Bayangkan saja biasanya rapat terbuka itu dimulai pada pukul 10 pagi dan berakhir menjelang petang, diawali dengan iring-iringan simpatisan partai yang seringkali membuat macet jalan raya. Anda bisa bayangkan bahwa pada jam demikian sebenarnya manusia produktif akan bekerja untuk menghidupi kehidupannya. Kalaupun dia mempunyai pekerjaan sendiri seperti pedagang, rasanya jam segitu semua orang yang punya usaha sendiri pun sedang repot-repotnya dengan usahanya. Kalau demikian pilitikus tidak perlu khawatir mencari data pengangguran yang valid karena semuanya terpampang jelas di muka mereka saat rapat akbar berlangsung.
Hal ini semakin ironis dengan repotnya para pekerja yang kesulitan mencari angkutan terutama bus yang biasanya habis disewa oleh partai politik untuk mengangkut massa. Bayangkan ternyata rapat akbar malah membuat orang produktif menjadi kurang produktifitasnya karena terlambat ke kantor akibat kesulitan kendaraan umum.
Semoga di kemudian hari, rapat terbuka dapat dikurangi atau dibatasi hanya pada saat hari libur saja. Karena kurang efektif dan rawan keributan, hal ini juga tidak akan semakin mempermalukan diri kita sendiri dengan memaparkan secara gamblang betapa banyaknya pengangguran di negeri kita yang gemah ripah lok jenawi ini.
*Penulis adalah dosen kesehatan jiwa FK UKRIDA dan Psikiater di Klinik Psikosomatik RS Omni Internasional.
Dari sekian banyaknya cara merebut hati konsituen, saya paling tertarik mencermati kampanye terbuka yang seringkali dihadiri oleh ribuan bahkan puluhan ribu massa.
Selain rawan terhadap bentrokan antar pendukung seperti yang banyak diberitakan di media televisi akhir-akhir ini, kumpulan massa sampai sebegitu besar juga membuat saya bertanya, apakah mereka tidak bekerja sampai rela ikut kampanye berdesak-desakan dan berpanas ria?
Saya rasa banyak sekali politikus yang menjanjikan akan menciptakan lapangan kerja di masa kampanye ini. Sesuatu yang seringkali sulit direalisasikan pada kenyataanya. Namun lebih dari itu, kumpulan massa saat kampanye partai politik juga merupakan cermin bahwa pengangguran di Indonesia memang demikian besarnya.
Bayangkan saja biasanya rapat terbuka itu dimulai pada pukul 10 pagi dan berakhir menjelang petang, diawali dengan iring-iringan simpatisan partai yang seringkali membuat macet jalan raya. Anda bisa bayangkan bahwa pada jam demikian sebenarnya manusia produktif akan bekerja untuk menghidupi kehidupannya. Kalaupun dia mempunyai pekerjaan sendiri seperti pedagang, rasanya jam segitu semua orang yang punya usaha sendiri pun sedang repot-repotnya dengan usahanya. Kalau demikian pilitikus tidak perlu khawatir mencari data pengangguran yang valid karena semuanya terpampang jelas di muka mereka saat rapat akbar berlangsung.
Hal ini semakin ironis dengan repotnya para pekerja yang kesulitan mencari angkutan terutama bus yang biasanya habis disewa oleh partai politik untuk mengangkut massa. Bayangkan ternyata rapat akbar malah membuat orang produktif menjadi kurang produktifitasnya karena terlambat ke kantor akibat kesulitan kendaraan umum.
Semoga di kemudian hari, rapat terbuka dapat dikurangi atau dibatasi hanya pada saat hari libur saja. Karena kurang efektif dan rawan keributan, hal ini juga tidak akan semakin mempermalukan diri kita sendiri dengan memaparkan secara gamblang betapa banyaknya pengangguran di negeri kita yang gemah ripah lok jenawi ini.
*Penulis adalah dosen kesehatan jiwa FK UKRIDA dan Psikiater di Klinik Psikosomatik RS Omni Internasional.
sumber:
http://www.kabarindonesia.com
http://www.kabarindonesia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar