Pada bulan Mei 2005, saat undangan di Deutsche Welle (Radio Suara Jerman) dan perhimpunan warga Tionghoa di Berne, saya menghadiri sebuah simposium yang berjudul"The Cultural Revolution-Forced to Forget" di Museum Rhine. Penerjemah saya adalah seorang yang wanita yang ramah dan lemah lembut. Ia adalah Zhang Danhong, mantan direktur Departemen Radio Bahasa Mandarin di Deutsche Welle yang disingkirkan karena dengan kuat menyuarakan komentar-komentar pro-China selama Pertandingan Olimpiade.Perkataan Ms. Zhang merupakanrefleksi terhadap suatukecenderungan yang lebih besar yang terjadi di dunia saat ini. 'Gelombang merah' pro-China sedang menyusupi Barat, menyebabkan para anggota masyarakat Baratmempertimbangkan bagaimana mereka bisa mempertahankan nilai-nilai demokrasi di tanah mereka sendiri.
Zhang Danhong Mengubah Pendirian Politik
Shang Danhong muncul di Beijing dan pergi ke Jerman untuk kuliah di sebuah universitas pada tahun 1980-an. Ia mulai bekerja untuk Bagian Siaran Bahasa Mandarin dari Radio Deutsche Welle di tahun 1990-an. Pada tahun 2004, ia diangkat sebagai wakil direktur pada departemen tersebut. Ketika saya menemuinya beberapa tahun yang lalu, ia sedang bekerja dengan Von Hein, direktur Bagian Radio Bahasa Mandarin pada program yang menyoroti Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi di China.
Belakangan ini, beberapa pengacara demokrasi China di Jerman, termasuk Fei Liangyong dan Peng Xiaoming, menerbitkan sebuah artikel yang mengkritik komentar-komentar Zhang. Dalam artikel yang sama, mereka juga mengakui bahwa Zhang "sering melaporkan tentang perkembangan pergerakan HAM dan demokrasi China di luar negeri, juga pengalaman-pengalaman politik para oposisi yang teraniaya di China."
Namun secara tiba-tiba, sang jurnalis ini, yang peduli tentang HAM dan yang bekerja baik dalam karirnya, membanting stir dan seolah-olah menjadi pembicara dari Partai Komunis China.
Ada Apa Dengan Komentar-komentar Zhang Danhong?
Beberapa hari sebelum Olimpiade Beijing, Zhang mengatakan dalam sebuah wawancara di radio bahwa China telah mengangkat 400 juta rakyat keluar dari kemiskinan dalam beberapa dekade terakhir. Lebih lanjut ia mengatakan, "Partai Komunis China lebih dari sekedar kekuatan politik di dunia yang menerapkan Pasal 3 dari Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Manusia (HAM)."
Zhang telah mengkualifikasikan pengangkatan ratusan juta penduduk China keluar dari kemiskinan sebagai suatu kontribusi dari PKC, tapi melupakan puluhan juta yang kelaparan hingga mati di bawah kekuasaan komunis. Ia juga telah lupa menyebutkan perjuangan rakyat China melawan tekanan dan eksploitasi PKC. Jumlah rakyat yang mengalami kemiskinan sedang meningkat di China. Bahkan pemerintah China mengakui bahwa terdapat 250 juta penduduk pengangguran di China. Banyak yang berjuang hidup serba kekurangan pada usia senja mereka.
Ketika sebagian orang mengkritik sensor pemerintah China terhadap Internet, Zhang Danhong berkata, "Beberapa website di Jerman juga diblokir, termasuk situs pornografi yang berbahaya bagi anak-anak." Siapapun dengan pikiran sehat tahu bahwa pemblokiran seperti itu adalah untuk mencegah anak-anak, akan tetapi sensor pemerintah China merupakan suatu pelanggaran dasar-dasar Hak Asasi Manusia (HAM).
Selama diskusi pada Channel 2 Jerman mengenai masalah Tibet, Zhang mengatakan bahwa pemerintah China "telah melakukan banyak hal untuk melindungi kebudayaan Tibet." Nampaknya Zhang tidak sadar kalau inti kebudayaan Tibet adalah Buddha Tibet, pusat dari lama-lama besar. Semua pemimpin dari empat sekte Buddha Tibet, termasuk Dalai Lama, semuanya dalam pengasingan. Apakah itu merupakan hasil dari "perlindungan" PKC terhadap kebudayaan Tibet?
Perubahan Besar di antara Warga China Luar Negeri
Terlepas dari maksud Zhang Danhong, pujiannya terhadap kediktatoran yang mengabaikan HAM merupakan suatu tamparan bagi wajah para korban pelanggaran HAM di China, dan merupakan suatu pengkhianatan bagi nilai-nilai hak asasi manusia dari negara-negara demokratis Barat.
Menurut pendapat saya, masalah yang lebih serius terdapat pada fakta bahwa Zhang Danhong tidak sendirian dalam pandangan-pandangannya. Berbagai komentarnya identik dengan mereka yang ada di pemerintah China, dan juga mewakili sebagian besar warga China luar negeri, juga para elit budaya dan kelas menengah di China.
Ketika saya pertama kali datang ke Eropa untuk suaka politik di awal tahun 1990-an, Saya memberikan beberapa pidato tentang HAM China. Pada saat itu, warga Tionghoa perantauan manapun bersimpati terhadap pergerakan demokrasi atau tidak tertarik dengan politik. Hampir tidak ada pangsa pasar bagi propaganda pemerintah China. Belasan tahun lebih telah berlalu, dan telah terjadi perubahan besar di antara warga China perantauan. Seiring pertumbuhan ekonomi China, makin banyak warga China luar negeri telah mensekutukan diri mereka dengan rejim PKC, yang mengaku mewakili China. Gelombang besar patriotisme buta telah menghantam setiap komunitas Tionghoa di seluruh dunia.
Mengapa warga Tionghoa yang hidup di dalam negara-negara demokratis Barat mensekutukan diri mereka dengan suatu kediktatoran? Ada beberapa alasan, seperti nostalgia, keangkuhan, gravitasi terhadap kekuasaan, dan kepentingan pribadi.
Alasan yang lebih penting adalah komposisi dari warga China perantauan telah berubah sedikit sejak awal tahun 90-an. Dalam tahun-tahun terakhir, banyak keluarga kelas menengah China telah mengirim anak-anak mereka ke luar China untuk pendidikan lebih lanjut. Kebanyakan dari penduduk ini mengambil manfaat dari kekuasaan PKC. Beberapa dari mereka juga merupakan keluarga dari para pejabat pemerintah yang korup. Terlepas dari bagaimana mereka datang ke Barat, umumnya mereka berbagi satu hal: mereka hanya ingin memperoleh manfaat atas kekayaan dan kebanggaan atas pertumbuhan China, namun enggan 'membayar harga' untuk hidup di bawah kediktatoran.
PKC Menjadi Lebih Lihai dalam Pendekatannya
Saya kenal seorang pakar asal China dari Swedia. Selama bertahun-tahun, ia telah berbicara guna memajukan HAM di China. Baru-baru ini, ia telah diundang oleh pemerintah China untuk berkunjung beberapa kali ke China, memberikan lebih banyak kesempatan untuk riset dan kerja sama, dan menerima penghargaan dari pemerintah China. Barangkali sebagai hasilnya, ketika para jurnalis Swedia melaporkan tentang pemecatan para pekerja migran dari Beijing oleh pemerintah China selama Olimpiade, sang pakar China ini di TV telah mengkritik para jurnalis atas pemberitaan negatif mengenai China, sementara ia sendiri memuji kemajuan China.
PKC telah menjadi lebih lihai dalam merayu para kritikusnya. Bahkan sang pakar asal China dari Swedia itu, salah satu negara paling demokratis di dunia, tidak mampu menolak rayuan dari PKC, apalagi Zhang Danhong, yang tumbuh dewasa di bawah rejim Komunis.
Bagaimana Semestinya Negara Barat Mempertahankan Nilai-nilai Demokrasi
Sebuah pertanyaan yang masuk akal telah muncul: PKC secara luas telah menyusupi media berbahasa Mandarin di Barat; mengapa hanya Jerman satu-satunya negara yang tidak setuju dengan komentar-komentar pro-komunis?
Pandangan saya pribadi adalah bahwa Jerman telah belajar dari kesalahan dalam sejarah. Demokrasi dan kebebasan berbicara mereka pernah disalahgunakan dan diinjak-injak semasa Hitler berkuasa. Oleh karena itulah, di samping mempertahankan kebebasan berbicara, orang Jerman juga berhati-hati untuk tidak membiarkan siapapun mengontrol opini publik.
Komentar-komentar Zhang telah diselidiki terutama sehubungan karena posisi Zhang sebagai pegawai sektor publik yang harus mentaati Konstitusi Jerman. Sebagai wakil direktur dari departemen Radio Berbahasa Mandari dari Deutsche Welle, Zhang juga harus mengikuti misi dan prinsip-prinsip stausiun tersebut. Jika tidak ia berarti telah melanggar kontrak kerjanya.
Banyak perubahan telah terjadi di China tahun ini. Di bawah kepemimpinan Zhang, Deutsche Welle telah mewawancarai sebagian besar para pakar China pro-komunis di Jerman. Suara kritikan terhadap rejim Komunis telah jarang terdengar. Ini menyesatkan, bahkan menipu, terhadap para pendengar berbahasa Mandarin. Sebenarnya, para pakar asal China tidak mesti semuanya nge-fans terhadap PKC. Beberapa dari mereka mungkin telah menyanyikan pujian di luar perhatian mereka terhadap kepentingan pribadi.
Bagi Jerman, tindakan Zhang Danhong benar-benar merupakan ancaman. Itu bukan ancaman ekonomi, tapi suatu "penyusupan merah" yang membahayakan nilai-nilai demokrasi Barat.
Sekarang di Beijing, orang-orang yang memegang spanduk bertuliskan "Bebaskan Tibet" akan ditangkap dalam beberapa menit. Sementara "gelombang merah" komunis sedang menyebar di negara-negara Barat tanpa memperoleh perhatian.
Seorang warga Jerman berkata tentang keseluruhan insiden Zhang Danhong, "Meskipun kami tidak selalu pandai membicarakan nilai-nilai demokrasi kami, kami tidak bisa membiarkan halaman rumah kami disusupi seperti ini." Bagaimana semestinya negara-negara Barat mempertahankan nilai-nilai demokrasi di tanah mereka sendiri? Pertanyaan ini memerlukan diskusi lebih lanjut.(epochtimes/pbud)
Mo Lihua, alias Mo Li, adalah seorang mantan pengajar di Perguruan Tinggi Hunan Zhaoyang Normal, dan telah dipenjara selama tiga tahun setelah secara terbuka mengkritik Pembantaian di Lapangan Tiananmen Juni 1989. Ia kini tinggal di pengasingan di Swedia dan bekerja sebagai guru dan penulis pada majalah berbahasa Mandarin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar